Posted in Just Share

Jangan Remehkan Kami yang Bekerja Jauh


Jangan remehkan kami yang bekerja jauh, karena sesungguhnya kami menginginkan posisi kalian yang bisa mempunyai waktu di rumah untuk bersama keluarga, kalian tidak pernah akan bisa merasakan ketika kaki ini melangkah menuju sebuah tanggung jawab profesionalisme dan kami menitipkan kewajiban kami kepada orang lain, hanya Allah yang tahu betapa kencang degup jantung ini, betapa kuatnya otot mata kami dan menggantikannya dengan sebuah senyuman ketika sang bunda melambaikan tangannya “semoga sukses selalu”

-angin pengembara-

Advertisements
Posted in Just Share

Lakukan Sesegera Mungkin


Kadang aku berpikir. Lakukan segala yang ingin kamu lakukan. Secepat mungkin sesegera mungkin. Sebelum kita akan menyesal karena tidak pernah memulai. Sebelum semua dikerjakan orang lain. Sebelum kita dipaksa mengalah dengan keadaan.

Posted in Just Share

Hari Baru


IMG_7677

Di bawah langit yang sama, ada dua dunia berbeda.
Jarak membentang di antaranya menciptakan bahasa baru untuk kita.
Tiap kata yang kau ucapkan berarti kapan.
Tiap kata yang kuucapkan berarti akan.

M Aan Mansyur

Posted in Just Share

Batas


rangga

Sudah lihat AADC 2? Oke, ini dia puisi yang ada di AADC 2. Karya Aan Mansyur dari Buku Tak Ada New York Hari Ini. Enjoy!

Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

 

Aan Mansyur

Posted in Just Share

Pantai Melawai Balikpapan


Balikpapan lumayan banyak pantainya. Pantainya kebanyakan berbatasan langsung dengan selat makasar. Thats why gak seberapa kenceng arusnya.

Salah satu pantainya adalah Pantai Melawai. Viewnya lumayan bagus. Banyak orang dateng ke sini. Sebenernya bagus kalo pagi. Tapi apa daya cuma bisa ke sini pas sore hari.

Pantai ini berada 5 menit dari pusat kota. Letaknya depannya Lapangan Merdeka. Kalo mau ke sini bisa naik gojek atau angkot yang harganya 5000 rupiah dari manapun kamu naiknya. Biaya masuknya gratis.

Di dalemnya ada helipad milik Pertamina. Biasanya banyak banget yang nongkrong di sini sambil nikmatin pemandangan laut dari daerah tinggi.

Yang pengen tahu, nih foto-fotonya :

IMG_7664

IMG_7677

IMG_7681

 

 

Posted in Just Share

Merantaulah


Merantaulah.. agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang.

Merantaulah.. engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.

Merantaulah.. engkau kan mengerti alasan kenapa kau harus kembali.

Merantaulah akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya . pada kampung halamanmu. pada mereka yang kau tinggalkan.

Merantaulah .. engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ibu, bapak, adik, kakak, ketika kmau pulang ke rumah.

Merantaulah.. engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepaskanmu pergi jauh.

Merantaulah.. engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan.

Merantaulah.. semakin jauh tanah rantauanmu, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.

Sekali lagi.. Merantaulah.. engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan engkaupun kan tahu siapa yang akan kau rindu

Untaian kalimat di atas adalah penggalan dari novel negeri 5 menara.

Merantau. Sebuah kata yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sejak lahir sampai lulus kuliah selalu berada di kota kelahiran. Surabaya. Alih-alih ke seberang pulau, ke Jakarta saja baru saya rasakan ketika saya kuliah. Itupun tidak menetap, hanya 1-2 hari. Namun rasanya sangat berat sekali berpisah dengan keluarga.

Ketika dulu mau ikut lomba ke Jakarta aja seperti ada yang hilang di salah satu bagian hati. Seperti seolah-olah bakalan pergi jauh. Jauh untuk waktu yang sangat lama.

Sebuah langkah besar saya pilih ketika masuk ke PLN. Dengan jelas di poster bahwa seluruh peserta harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Tes demi tes saya lewati dan akhirnya saya lolos dan menandatangani kontrak. Sebenernya di situ ada celah bagi saya untuk mundur. Tapi hati kecil saya berkata tidak. Saya harus berubah. Gak bisa gini-gini aja. Dan pada akhirnya saya resmi menjadi seorang perantau.

Ujian pertama yaitu pelatihan samapta di Pusdikajen TNI AD di Lembang. Menjelang hari H saya sempat galau. Ini saya serius mau ke tempat orang? serius bakal ninggalin Surabaya? sampai akhirnya saya akhirnya meninggalkan Surabaya. Hari H pun datang. Agak berat memang. Apalagi Ibu saya sempat menangis ketika saya berpamitan. Dan akhirnya saya berangkat.

Hayo tebak yang mana #pln49

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Beberapa hari, terasa biasa. Sempat homesick, terus biasa lagi. Begitu seterusnya.

Selanjutnya saya bergerak menuju Bogor. Rasanya benar-benar seperti dikarantina. Bayangin aja hidup diatur semua dan hanya boleh pegang HP kalo hari Sabtu Minggu. Selebihnya HP dikumpulkan dan diambil pada akhir pekan. Sampai pada saat itu saya betul-betul menghargai waktu telepon dengan keluarga. Tak pernah absen setiap minggu menelepon hanya untuk bertukar kabar. Hanya untuk tahu keadaan satu sama lain.

Tatap mata yang tajam #udiklatbogor #pln49

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Great view at Cimory

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Selanjutnya OJT di Jakarta. Rasanya lebih berat lagi rasanya. Uang begitu cepat tergerus. Untuk transport, listrik, makan. Saat itu, manajemen keuangan bener-bener diuji. Mulai nyari-nyari yang murah. Ke warung, nyobain satu makanan, terus kalo mahal, pindah ke warung lainnya. Begitu seterusnya.

Minggu pagi di CFD Jakarta. Happy weekend everyone.

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Di jakarta juga ada hutan mangrove ternyata. Wisata alam yg bisa jadi alternatif tujuan di antara dominasi mall di Jakarta.

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Alhamdulillah cfd #monas #minggusehat

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Dan akhirnya masa-masa akhir pun datang. Saya ditempatkan di Balikpapan. Kota yang saya baru tahu lokasinya di peta itu yang mana. Balikpapan di kalimantan timur saja saya baru tahu :v. Alhamdulillah sudah mulai terbiasa. Hidup di kota orang harus mempercepat proses pembiasaan.

Setelah sekian lama gak ke pantai yang bersih #main #explorebalikpapan #indonesiabagus

A post shared by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Surabaya – Bogor – Jakarta – Balikpapan

Sampai akhirnya saya mengerti. Merantau bukan lagi masalah materi. Tapi tentang pendewasaan diri.

Pengalaman yang saya rasakan sangat luar biasa. Untuk pertama kalinya hidup dengan orang baru. Berdamai dengan keadaan yang ada. Sangat bersyukur saya “dipaksa” untuk merantau. Jika tidak merantau mungkin saya gak akan pernah ke kota ini. Menjelajahi Indonesia sejauh ini. Dan bertemu orang-orang hebat sampai sekarang ini.

Berkat merantau, saya juga jadi tahu ragam manusia-manusia Indonesia. Saya jadi tahu monas itu seperti apa :v.

Bagi kamu yang akan merantau. Jangan takut. Cobain kesempatan yang ada mumpung masih muda.

Merantaulah.. agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang.