Posted in Just Share

Merantaulah


Merantaulah.. agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang.

Merantaulah.. engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.

Merantaulah.. engkau kan mengerti alasan kenapa kau harus kembali.

Merantaulah akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya . pada kampung halamanmu. pada mereka yang kau tinggalkan.

Merantaulah .. engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ibu, bapak, adik, kakak, ketika kmau pulang ke rumah.

Merantaulah.. engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepaskanmu pergi jauh.

Merantaulah.. engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan.

Merantaulah.. semakin jauh tanah rantauanmu, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.

Sekali lagi.. Merantaulah.. engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan engkaupun kan tahu siapa yang akan kau rindu

Untaian kalimat di atas adalah penggalan dari novel negeri 5 menara.

Merantau. Sebuah kata yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sejak lahir sampai lulus kuliah selalu berada di kota kelahiran. Surabaya. Alih-alih ke seberang pulau, ke Jakarta saja baru saya rasakan ketika saya kuliah. Itupun tidak menetap, hanya 1-2 hari. Namun rasanya sangat berat sekali berpisah dengan keluarga.

Ketika dulu mau ikut lomba ke Jakarta aja seperti ada yang hilang di salah satu bagian hati. Seperti seolah-olah bakalan pergi jauh. Jauh untuk waktu yang sangat lama.

Sebuah langkah besar saya pilih ketika masuk ke PLN. Dengan jelas di poster bahwa seluruh peserta harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Tes demi tes saya lewati dan akhirnya saya lolos dan menandatangani kontrak. Sebenernya di situ ada celah bagi saya untuk mundur. Tapi hati kecil saya berkata tidak. Saya harus berubah. Gak bisa gini-gini aja. Dan pada akhirnya saya resmi menjadi seorang perantau.

Ujian pertama yaitu pelatihan samapta di Pusdikajen TNI AD di Lembang. Menjelang hari H saya sempat galau. Ini saya serius mau ke tempat orang? serius bakal ninggalin Surabaya? sampai akhirnya saya akhirnya meninggalkan Surabaya. Hari H pun datang. Agak berat memang. Apalagi Ibu saya sempat menangis ketika saya berpamitan. Dan akhirnya saya berangkat.

Hayo tebak yang mana #pln49

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Beberapa hari, terasa biasa. Sempat homesick, terus biasa lagi. Begitu seterusnya.

Selanjutnya saya bergerak menuju Bogor. Rasanya benar-benar seperti dikarantina. Bayangin aja hidup diatur semua dan hanya boleh pegang HP kalo hari Sabtu Minggu. Selebihnya HP dikumpulkan dan diambil pada akhir pekan. Sampai pada saat itu saya betul-betul menghargai waktu telepon dengan keluarga. Tak pernah absen setiap minggu menelepon hanya untuk bertukar kabar. Hanya untuk tahu keadaan satu sama lain.

Tatap mata yang tajam #udiklatbogor #pln49

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Great view at Cimory

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Selanjutnya OJT di Jakarta. Rasanya lebih berat lagi rasanya. Uang begitu cepat tergerus. Untuk transport, listrik, makan. Saat itu, manajemen keuangan bener-bener diuji. Mulai nyari-nyari yang murah. Ke warung, nyobain satu makanan, terus kalo mahal, pindah ke warung lainnya. Begitu seterusnya.

Minggu pagi di CFD Jakarta. Happy weekend everyone.

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Di jakarta juga ada hutan mangrove ternyata. Wisata alam yg bisa jadi alternatif tujuan di antara dominasi mall di Jakarta.

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Alhamdulillah cfd #monas #minggusehat

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Dan akhirnya masa-masa akhir pun datang. Saya ditempatkan di Balikpapan. Kota yang saya baru tahu lokasinya di peta itu yang mana. Balikpapan di kalimantan timur saja saya baru tahu :v. Alhamdulillah sudah mulai terbiasa. Hidup di kota orang harus mempercepat proses pembiasaan.

Setelah sekian lama gak ke pantai yang bersih #main #explorebalikpapan #indonesiabagus

A photo posted by Helmy Satria Martha Putra (@satriahelmy) on

Surabaya – Bogor – Jakarta – Balikpapan

Sampai akhirnya saya mengerti. Merantau bukan lagi masalah materi. Tapi tentang pendewasaan diri.

Pengalaman yang saya rasakan sangat luar biasa. Untuk pertama kalinya hidup dengan orang baru. Berdamai dengan keadaan yang ada. Sangat bersyukur saya “dipaksa” untuk merantau. Jika tidak merantau mungkin saya gak akan pernah ke kota ini. Menjelajahi Indonesia sejauh ini. Dan bertemu orang-orang hebat sampai sekarang ini.

Berkat merantau, saya juga jadi tahu ragam manusia-manusia Indonesia. Saya jadi tahu monas itu seperti apa :v.

Bagi kamu yang akan merantau. Jangan takut. Cobain kesempatan yang ada mumpung masih muda.

Merantaulah.. agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang.

Selamat Berkomentar (Kosongi Email jika bermasalah)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s